Psikologi Positif sama Enggak Sih kayak Toxic Positivity?

Jika menyangkut topik psikologi, kamu pasti sudah sering mendengar istilah-istilah yang menggambarkan “gangguan/penyakit psikologis”, namun pernahkah kamu mendengar istilah tentang “psikologi positif”? Apakah psikologi positif sama dengan toxic positivity yang sedang ramai dibahas?

Sebelum membahas lebih dalam tentang psikologi positif, kita perlu mengenal dulu apakah itu psikologi positif. Psikologi positif merupakan cabang dari psikologi humanisme yang berfokus pada kebermaknaan dan kebahagiaan hidup. Definisi dari psikologi positif adalah ilmu yang mempelajari tentang emosi-emosi positif/kebahagiaan yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Psikologi positif tidak digunakan untuk mengganti atau menghilangkan gangguan namun lebih berfokus untuk mencari makna/kebahagiaan dengan memahami secara ilmiah pengalaman-pengalaman manusia.  Psikologi positif memunculkan fungsi manusia yang positif dengan mencapai pemahaman ilmiah dan intervensi yang efektif untuk membangun perkembangan individu, keluarga dan masyarakat.

  1. Ruang lingkup psikologi positif terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:Tingkat subjektif, pengalaman inividu yang bersifat positif yang hasilnya hanya bisa dirasakan untuk individu itu sendiri, seperti kesejahteraan dan kepuasan hidup di masa lampau, lalu di masa sekarang adalah kenikmatan-kenikmatan sensual, kebahagiaan dan kesenangan dan di masa depan adalah optimisme, harapan dan keyakinan.
  2. Tingkat individual, mengenai sifat-sifat positif manusia yang bersifat personal dan hasilnya tidak hanya dirasakan oleh individu itu sendiri namun orang sekitarnya juga, seperti kapasitas untuk mencintai, keberanian, kemampuan membangun hubungan interpersonal, sensitivitas terhadap estetika, sifat pantang menyerah, memaafkan, orisinalitas dan optimisme untuk masa depan.
  3. Tingkat komunitas, mengenai nilai-nilai kebenaran dan institusi-institusi yang menggerakkan manusia untuk menjadi manusia beradab yang lebih baik dengan menerapkan prinsip-prinsip yang hasilnya dapat dirasakan oleh banyak orang dan dapat mempengaruhi banyak orang untuk menerapkannya juga, seperti: bertanggung jawab, kepedulian, altruisme, toleransi dan etos kerja.

Tiga tingkatan tersebut jika diterapkan dengan baik dapat mengembangkan individu untuk mencapai pemaknaan hidup dan kebahagiaan,

Lalu, Apakah psikologi positif sama dengan toxic positivity?

Tentu keduanya merupakan hal yang sangat berbeda. Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif. Sedangkan psikologi positif adalah pemaknaan atas emosi-emosi yang dirasakan sehingga dapat mengembangkannya menjadi kebahagiaan. Dalam psikologi positif, seseorang tidak dituntut untuk terus merasa positif, namun juga diminta untuk merasakan dan memaknai emosi-emosi negatif yang dirasakannya sehingga dapat menemukan solusi dari emosi-emosi negative tersebut dan mencapai sebuah kebahagiaan. Contohnya: ungkapan yg sering digunakan dalam toxic positivity adalah “ayo semangat dan berpikir positif, gausa sedih deh, kan ga seberapa yang kamu alami”, ungkapan ketika paham psikologi positif “kamu lagi sedih kah? Gimana rasanya? Coba ungkapin dulu dengan baik”. Berbeda dengan toxic positivity, psikologi positif mengajarkan kita untuk merasakan emosi itu bukan malah menolak atau menghindar dari emosi tersebut. Sudah jelas sekali kan perbedaannya?

Jadi, dalam ilmu psikologi kita bukan tidak diperbolehkan untuk merasakan kesedihan atau emosi-emosi negatif lainnya, namun kita diminta untuk memahami diri kita termasuk perasaan dan emosi tersebut. Sehingga kita bisa mengatasi permasalahan, mengembangkan diri dan mencapai kesejahteraan hidup yaitu kebahagiaan.

Sangat keren kan ilmu psikologi ? 😊

Referensi :

Amalia, L., & Wardani, L. (2021). Psikologi Positif: Sebuah Cara dalam Memandang Ilmu Psikologi. In Aplikasi Psikologi Positif: Pendidikan, Industri, dan Sosial (pp. 1 – 8 ). Jakarta: NEM.

Seligman, M.E.P. (2002). Authentic Happiness: Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: Free Press.

Seligman, M.E.P., Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive Psychology, an Introduction. American Psychologist, 5, 5-14.

Taufik. (2012). Positive Psychology: Psikologi Cara Meraih Kebahagiaan. Prosiding Seminar Nasional Psikologi Islami.

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat kami