Gaslighting itu Apa, Ya?

“Kamu tuh terlau sensitif dan lebay, deh!”

“kamu gila ya? Itu tuh ga pernah terjadi.”

“ya masalahnya tuh kamu, bukan aku.”

“halah, itu tuh cuman ada di pikiran kamu tau.”

“iyalah aku kan selalu salah, kamu emang yang paling bener.”

Pernahkah kamu mendapat respon-respon seperti itu oleh orang terdekatmu? Berawal dari kamu hanya ingin menyampaikan pendapat atau perasaan secara jujur tapi malah berbalik menjadi kamu yang merasa bersalah dan mempertanyakan benar tidaknya pendapat atau perasaan tersebut. Mungkin tanpa kamu sadari kamu sedang mengalami gaslighting. Apa sih gaslighting itu? Bagaimana dampaknya untuk psikologis kita?

Yuk simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!!

Gaslighting merupakan suatu bentuk manipulasi psikologis yang menyebabkan keraguan pada inidividu atau kelompok yang ditargetkan membuatnya mempertanyakan ingatan, persepsi dan kewarasan mereka sendiri. Hal ini dilakukan berulang kali sehingga korban kehilangan keyakinan akan insting hidup yang telah mereka andalkan dan menjadi tidak yakin akan apapun. Gaslighting merupakan pelecehan emosional yang berbahaya. Gaslighting berasal dari drama panggung pada tahun 1938 dan kemudian dijadikan pada film tahun 1944 yang berjudul Gaslight. Gaslight bercerita tentang bagaimana seorang suami mencoba membuat istrinya gila menggunakan berabagai trik yang menyebabkan istrinya mempertanyakan persepsi dan kewarasannya sendiri.

Gaslighting dapat terjadi di berbagai macam hubungan, yaitu: percintaan, pertemanan, keluarga atau bahkan dalam pekerjaan. Gaslighting memiliki berbagai teknik yang digunakan untuk mencoba membuat korban meragukan berbagai pikiran, ingatan dan tindakan mereka sendiri.

Berikut merupakan teknik-teknik yang digunakan pelaku untuk melakukan gaslighting kepada korban:

  1. Withholding (Memotong) ; pelaku berpura-pura untuk tidak mengerti atau menolak untuk mendengarkan. Ungkapan yang ditunjukkan biasanya seperti “kamu bikin aku bingung deh” atau “udahlah aku ngga mau dengerin omonganmu lagi”.
  2. Countering; pelaku membuat korban mempertanyakan ingatannya kembali, bahkan ketika korban mengingat secara akurat hal tersebut. Dengan ungkapan “Coba kamu inget-inget yang bener, kamu tuh terakhi kali gitu dan kamu salah”.
  3. Blocking and Diverting (memblokir dan mengalihkan); pelaku mengalihkan pembicaraan dengan mengubah pokok pembicaraan untuk mempertanyakan pikiran korban dan mengendalikan pembicaraan. Seperti “kamu kok bisa sih kepikiran ide gila kayak gitu”, “gausah ngomel terus deh”, “kamu sengaja ya nyakitin aku”
  4. Trivializing (menyepelekan); pelaku membuat korban percaya bahwa pikiran atau kebutuhannya tidak penting. Seperti “kamu marah gara gara hal kecil kayak gitu?”, “kamu tuh sensitif banget deh”
  5. Forgetting and Denial (melupakan dan penolakan); pelaku berpura-pura lupa akan hal yang sebenarnya terjadi atau menyangkal hal-hal seperti janji-janji penting yang dibuat untuk korban. Ungkapan yang ditunjukkan biasanya “kamu tuh ngomongin apa sih”, “kamu tuh cuman mengada-ada aja ya”, “aku gatau deh maksut kamu”.

Jika pola-pola pelaku gaslighting terus berlanjut akan menyebabkan korban menjadi bingung, cemas, terisolasi dan tertekan, sehingga mereka dapat kehilangan semua nalar tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian, mereka akan mulai mengandalkan pelaku untuk menjelaskan kenyataan dan korban akan terjebak dan susah terlepas dari hubungan tersebut.

 

Referensi:

Petric, D. (2018). Gaslighting and the knot theory of mind. Researchgate.doi:10.13140/RG.2.2.30838.86082

Tracy, N. (2019, May 3). Gaslighting Definition, Techniques and Being Gaslighted. Retrieved July 25, 2021, from HealthyPlace: https://www.healthyplace.com/abuse/emotional-psychological-abuse/gaslighting-definition-techniques-and-being-gaslighted

 

 

 

You may also like...

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat kami